STORY BEHIND THE SCENE
![]() |
| Raden Saleh Sang Maestro |
Artist: Agoes Noor, Size: 29 x 42 cm, Medium: Blended coffee and water on paper, Year: 2019.
See another similar artworks: https://ipibogor2018.blogspot.com/p/agoes-art.html
Pengantar
Cuplikan
tulisan hasil screen-shoot dari Wikipedia ini berkisah tentang Sang Maestro
Lukis Indonesia yang bernama Raden Saleh, yaitu sekembalinya dia merantau dari
Eropa selama 20 tahun.
Nampaknya
ada sedikit kegagapan bagi Raden Saleh dalam menghadapi orang-orang pribumi Jawa seperti keluhannya
yang bergaris merah di cuplikan tersebut: “Di sini orang hanya bicara tentang gula
dan kopi, kopi dan gula”. Tafsiran kita
adalah, pada tahun 1852 isu komoditas kopi (termasuk hiruk-pikuk perdagangannya)
sudah ramai dibicarakan publik secara terbuka.
Kita memaklumi kegagapan ini karena waktu itu Saleh memang seniman aliran romantisme yang kebanyakan pada jaman itu seniman melukis dengan media cat minyak di atas kanvas. Kopi pada jaman itu belum terpikirkan untuk dimanfaatkan sebagai media untuk melukis.
Kopi Sebagai Pengganti Cat Lukis
Dalam beberapa tahun terakhir ada trend baru yang mulai muncul dalam dunia seni-rupa, yaitu melukis dengan media kopi. Para peminat lukisan kopi ini banyak melakukan percobaan untuk mendapat tekstur warna dari kopi yang seperti cat, pekat dan tidak mudah pudar. Mereka biasa mencampur juga dengan lem kayu untuk mengikat srbuk kopinya, merebus seduhan kopi dengan cara tertentu agar menghasilkan warna sephia tertentu, hingga akhirnya menemukan perbandingan ukuran campuran air dan kopi, serta metode yang tepat.
Sudah cukup
banyak seniman lukis yang memanfaatkan kopi atau ampas limbah kopi sebagai bahan
baku pewarna, seperti layaknya cat air atau cat minyak, untuk membuat lukisan.
Lukisan tersebut bisa dituangkan di atas kertas atau di atas kanvas. Bisa juga cairan
seduhan kopi original langsung dipakai sebagai pengganti cat, bisa juga bersama
bubuk kopinya dicampur dengan lem perekat sebagai bahan pewarnanya. Hasil pewarnaannya
akan berupa monochrome-sephia, sama seperti warna yang dihasilkan dari lukisan
bakar (pirografi). Namun ada juga
pelukis yang mengkombinasi warna monochrome-sephia ini dengan warna lain (bisa dari
cat-air, pensil warna, acrylic, soft-pastel, dll). Baca juga; https://muda.kompas.id/baca/2019/06/10/seni-melukis-dari-kopi/
Lukisan
photo wajah Raden Saleh di atas adalah karya Agoes Noor tahun 2019, yang dibuat
dengan media kopi di atas kertas ukuran 29 x 42 cm. Sebelum mulai melukis kopi,
Agoes biasanya membuat seduhan kopi campur air panas dengan perbandingan 1 : 1,
tergantung gradasi warna yang ingin dibuatnya. Untuk lukisan kopi di atas
kertas diperlukan kertas khusus untuk cat-air, minimal berat 300-gsm. Untuk
media di atas kanvas sedikit agak beda memperlakukannya. Untuk mengikat
serbuk-serbuk kopi untuk menghsilkan warna hitam pekat (tergantung kegosongan
kopinya) biasanya dibantu dengan campuran lem atau cairan perekat.
Walaupun
jumlah pelukis kopi masih bisa dihitung jari, namun beberapa kegiatan dan
eksistensinya mulai muncul dalam bentuk diskusi dan nongkrong bareng, perkumpulan,
komunitas pecinta lukis kopi, pameran-pameran lukisan kopi, seperti yang
dilakukan 21 pelukis dari Komunitas
Pelukis Kopi (Coffee Painter Community) yang memamerkan 40 karyanya di Lebak-Bulus
Jakarta 2018 lalu, bahkan bulan November depan juga akan digelar event pameran
lagi oleh para pelukis kopi. Baca: https://www.beritasatu.com/hiburan/522140/21-pelukis-gelar-pameran-lukisan-kopi
Berikut
ini adalah contoh 15 lukisan dengan
media kopi yang bisa diakses pada link berikut: https://www.hipwee.com/hiburan/nikmatnya-minum-kopi-sambil-memandangi-15-lukisan-seindah-ini-bikinnya-pakai-cairan-kopi-juga-lho/
Penulis teringat tahun 1995 saat Menristek, BJ.Habibie memberikan ceramah pada suatu konggres nasional di Wisma Kinasih, Caringin-Bogor. Beliau berkisah tentang arti pentingnya Nilai Tambah (value added) suatu barang. Dalam ceramah tersebut dicontohkan barang “Besi”. Waktu besi masih dalam bentuk serbuk (biji-besi) dan bercampur pasir, harganya SANGAT-MURAH sekali dijual di pusat material bangunan. Namun setelah serbuk biji2 besi diolah pabrik logam jadi besi lempengan, harganya akan LEBIH meningkat. Saat lempengan besi sudah diubah oleh industri otomotif jadi bahan pendukung body mobil/kendaraan, harganya akan meningkat LEBIH-LEBIH meningkat lagi. Saat besi sudah diolah oleh industri dirgantara jadi bahan pendukung pesawat (Nurtanio misalnya), harganya akan LEBIH-LEBIH-LEBIH meningkat lagi.
Demikian juga barang yang berupa “Kopi”. Harga per Kg biji kopi dari petani setempat, katakan saja 30 ribuan (Baca: https://www.liputan6.com/bisnis/read/3999747/harga-biji-kopi-anjlok). Harga kopi akan meningkat setelah diolah pabrik kopi. Katakan saja 1 sachet kopi (isi 20 gram kopi plus gulanya) seharga 4 ribuan, jadi harga per kg kopi sudah jadi 200 ribuan. Harga kopi ini akan meningkat lagi saat kopi dijual di café-café franchise, restoran besar, resto hotel, atau resto airport. Secangkir kopi (anggap saja isi 20 gram tadi) seharga 50 ribuan, jadi sekilo kopi bernilai 2,5 jutaan.
Saat sekilo kopi tersebut diubah menjadi bahan dasar pewarna pada Lukisan-Kopi (maksudnya lukisan dengan media pewarnanya cairan kopi yang dipoleskn di atas kanvas berukuran sedang atau kertas Canson, Arto, Arches atau Fabriano), maka harga kopi sekilo tersebut bisa mencapai 5, 10, 15, bahkan bisa lebih dari 20 jutaan (harga lukisan kopi), tergantung dari nilai artistik karya si senimannya. Inilah yang disebut mengubah nilai tambah dari suatu barang, seperti yang dimaksud oleh BJ. Habibie di atas.
Persediaan Bahan Baku di Indonesia Berlebih
Data perdagangan luar negeri dari BPS menujukkan, bahwa nilai ekspor kopi pada 2018 menurun dari $1,2 miliar menjadi $817,8 juta, . Padahal permintaan kopi di pasar global terus meningkat. Data terkini lembaga The Observatory of Economic Complexity (OEC), pasar ekspor komoditas kopi di Eropa dikuasai Swiss (17%), Jerman (16%), dan Italia (14%). Indonesia hanya kebagian 0,15%.
Secara keseluruhan, menurut data OEC (Observatory Economic Complexity) per 2017, Indonesia berada di urutan enam eksportir kopi bersama Honduras dengan pangsa pasar 4,6 persen. Penguasa ekspor kopi dunia masih dipegang Brasil (18 persen) dan Kolombia (10 persen).
Menurut data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS, konsumsi kopi di Indonesia memang meningkat 8,25% per kapita dari 2017 ke 2018. Bahkan konsumsi per kapita diprediksi relatif stabil di kisaran 0,864 kilogram pada 2019-2020 dari 0,798 kilogram pada 2017.
Ini tidak mengherankan lantaran menjamurnya budaya baru ber-kedai kopi di Indonesia, termasuk kedai franchise. Berbagai kedai kopi tersebut bersaing ketat menjual kopi dari Aceh, Toraja, Mandailing, Malabar, Wamena, dan Bajawa. Namun meningkatnya konsumen kopi domestik ini tidak terlalu signifikan mengurangi supply dari produksi kopi di Indonesia. Dikatakan tidak terlalu signifikan maksudnya adalah kondisi supply-demand masih terlalu jauh dari equilibrium seperti posisi di Brazil, dimana produksinya kopi tinggi, tapi konsumen domestiknya juga tinggi, seperti juga di Vietnam yang produksinya tinggi tapi nilai ekspotnya ke Uni-Eropa juga tinggi. Fenomena menjamurnya kedai kopi di tanah-air, tetap akan menyisakan stock (surplus) yang tidak terdistribusi melalui ekspor ke luar karena kendala keterbatasan akses ekspor.
Baca juga https://beritagar.id/artikel/berita/kopi-indonesia-di-antara-pasar-ekspor-dan-pasar-lokal
Permintan kopi menurut negara (Coffee demand by
country), untuk negara di wilayah UE (Jerman, Italia, Perancis) sangat tinggi. Untuk negara wilayah Asia (Jepang, Korsel, Rusia, Vietnam, China, India), Untuk negara wilayah Amerika (USA, Brazil, Colombia).
Juga data dari International Coffee Organization (ICO)
2014-2018 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan produsen kopi
terbesar ranking ke-4 di dunia setelah Brazil, Vietnam, dan Columbia. Ini
artinya, Indonesia cukup potensial tersedia stock kopi untuk memenuhi permintaan
(demand) kopi dari negara-negara konsumen kopi seperti tercantum di atas.
Data dari Dirjen Perkebunan Kemeterian Pertanian ini menunjukkan kepada kita bahwa provinsi penghasil kopi terbesar ada di wilayah Indonesia bagian barat, yaitu: Sumut, Sumsel, Sumbar, Riau, Jambi, Aceh, Bengkulu, Lampung, Jatim, Jabar), Di wilayah Indonesia bagian timur dan tengah hanya ada di Maluku, Sulteng, dan Sulut. Artinya, lokasi sumber produksi kopi tidaklah jauh dari Bogor atau Jakarta. https://www.pertanian.go.id/home/?show=page&act=view&id=61
Melihat
data ICO 2012-2016 tentang alur perdagangan kopi (Coffee Trade Flow) di dunia,
Indonesia hanya akan naik angkanya untuk ekspor kopi ke negara-negara di Asia dan
sebagian kecil lainnya ke Uni-Eropa (lihat alur garis merah). Ekspor kopi
Vietnam nampaknya masih mengalahkan Indonesia dan sangat besar sekali menguasai
pasar Uni-Eropa dan sebagian bersaing dengan ekspor Indonesia ke pasar Asia
(seperti ke Jepang, Korsel, China, dan India).
Ini
artinya ada keterbatasan bagi Indonesia untuk ekspor kopi ke negara-negara di
benua Amerika, Afrika dan Australia, dan untuk ekspor ke Eropa dan Asia. Indonesia
juga tersaingi oleh Brazil dan Vietnam. Secara logika, keterbatasan dan
kesulitan akses ekspor Indonesia ini bisa berakibat kelebihan supply (Ingat:
Indonesia adalah produsen kopi terbesar ke-4 di dunia). Jadi pertanyaan
sederhananya adalah: “Mau di-kemana-kan kopi-kopi tersebut?” Apakah akan digalakkan
terus pembukaan kedai-kedai kopi baru yang makin lama makin menjamur dan makin
jenuh menyerap pasar domestik konsumen kopi Indonesia yang surplus? https://www.indonesia-investments.com/id/bisnis/komoditas/kopi/item186
Di
beberapa tempat (walau dalam jumlah yang tidak besar), bahkan sudah mulai
terpikir oleh petani bahwa lahan-lahan kopi yang keuntungannya menipis dan kurang
mengejar Break Event Point (BEP), lahan itu diubah jadi lahan kelapa sawit yang
lebih menjanjikan secara ekonomi. Konversi lahan ini, konversi seperti ini nampaknya
tidak terlalu signifikan berpengaruh pada produksi kopi di Indonesia.
Kampanye Isu Perubahan Iklim
Terkait
dengan isu perubahan iklim (climate change), efek pemanasan global dan defisit untuk
persediaan air, lembaga PBB yang bernama FAO (Food and Agricultural Organizaton)
mengeluarkan analisa data tentang kebutuhan air bagi sumber makanan tanaman hortikultural
di bumi. Juga World Economic Forum (WEF) juga mengkampanyekan isu bahwa “Untuk
menghasilkan secangkir kopi pagi Anda, butuh 140 liter air”.
Isu
di atas tentu akan mempengaruhi konsumen kopi untuk berpikir ulang jika ingin
minum kopi secara berlebihan. Karena rupanya untuk menghasilkan secangkir kopi
itu butuh 140 liter air bumi. Namun sebenarnya kampanye tersebut lebih difokuskan
untuk penyadaran akan pemulihan (recovery) air bumi, bukan menyasar pada pengurangan
nilai perdagangan komoditas pangan, seperti misalnya komoditas kopi. Dan estimasinya, kampanye FAO dan WEF tersebut akan lebih efektif pada tataran dunia
virtual dan pada kalangan masyarakat intelektual. Jadi akan terlalu sedikit
pengaruh penurunan permintaan (demand) atas konsumsi kopi.
Penutup
![]() |
| "Coffee Bean Music", pirografi karya Wuriyanto Nugroho |
Jadi,
apalagi yang diragukan seniman? Apalagi yang ditunggu? Please be
creative para Sedulur and take action. Kesimpulanya:
(1).Produksi
kopi kita (sebagai bahan baku lukisan) cenderung surplus.
(2).Akses
ekspor kopi kita ke pasar global kalah saing dengan negara lain seperti Brazil, Columbia, Vietnam (bahkan cenderung
menurun dibanding angka produksinya).
(3).Kedai-kedai
kopi yang makin menjamur, bersaing ketat dengan margin untung tipis, dan bertahap sudah
mengalami kejenuhan, karena harus disadari bahwa prinsip kedai yang sebenarnya itu bukan
menjual kopi, tapi menjual tempatnya. Jadi posisi kopi di kedai-kedai tadi bisa digantikan oleh teh,
soft-drink, juice, dll.
(4).Karya
lukisan kopi masih langka dan punya prospek bernilai jual tinggi.
Kalau kita kalah ekspor Kopinya, kita harus menang ekspor Lukisan-Kopinya.
Greeting
Art For a Better Civilizaton,
IPI-Bogor







No comments:
Post a Comment