STORY BEHIND THE SCENE
Artist : Agoes Noor
(see artist profile on https://ipibogor2018.blogspot.com/p/artist-profile.html)
Size : 50 x 70 cm;
Medium : Soft pastel on paper; Year : 2019
Contact : +62 813 1100
6411
See for another his artworks on https://ipibogor2018.blogspot.com/p/agoes-art.html
(Please translate by yourself through facility in this blog)
Riwayat Singkat Saleh:
Raden Saleh Sjarif Boestaman, lahir 1807 di
Terboyo-Semarang (lokasi terminal bis Semarang), dari keluarga ningrat Jawa
keturunan Arab. Sejak umur 10 tahun dia diserahkan pamannya yang seorang bupati
Smg kpd atasannya orang Belanda di Batavia. Sejak kecil sudah gemar melukis,
lalu dibimbing dan jadi asisten pelukis Belgia bernama AAJ.Payen. Karena bakat
lukisnya yang luar biasa Saleh mendapat beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda
saat itu untuk sekolah ke negeri Belanda. Dia berangkat ke Belanda tahun1829
(saat itu Perang Diponegoro sedang berlangsung) untuk belajar seni dan beberapa
hal lainnya.
![]() |
| Raden Saleh Sang Maestro Lukis Indonesia |
Saleh juga
pernah dikirim ke Jerman oleh pemerintah Belanda selama 5 tahun, sebagai tamu
kehormatan dalam bidang seni di Jerman. Banyak jasa dan karya Saleh untuk
bidang seni yang diwariskan dia di Jerman.
Dia dipanggil
kembali dari Jerman ke Belanda 1844 dan selanjutnya menjadi pelukis istana
kerajaan Belanda. Baru tahun 1852 Saleh pulang ke Indonesia setelah 20 tahun
tinggal di Eropa. Dia bekerja di Batavia sebagai konservator lukisan pemeritah
kolonial Belanda sambil terima order lukisan potret dari kerajaan Jawa. Tahun
1867 Saleh nikah dengan gadis keturunan ningrat Yogyakarta lalu tinggal di
Bogor sampai dia meninggal 1880, dimakamkan di Bogor.
Sikap Politis Raden Saleh:
Merujuk pada
pengertian politik secara umum (sesuai teori klasik), sebagai warga negara, sebagai
seorang seniman, sikap politis Raden Saleh dalam menghimbau, mengajak, untuk
mewujudkan kebaikan bersama, sangat jelas dan tegas, yaitu:
1. Berpihak Pada Nasib Inlander.
Sikap nasionalisme Saleh ini tercermin dalam bentuk sindiran yang
dituangkan dalam karya-karya lukisnya. Inlander adalah sebutan ejekan untuk
orang pribumi di Indonesia yang disampaikan oleh pemeritah Belanda saat itu (https://kbbi.web.id/inlander).
Saat ini Lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro sudah diangkat statusnya yang memenuhi kritea menjadi Cagar Budaya nasional dengan nomor registrasi RNCB.20190219.01.001562 berdasarkan Surat Keputusan Menteri No.306/M/2018. Karya salah satu pelukis terbaik bangsa ini dianggap memenuhi kriteria Cagar Budaya Nasional. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/lukisan-penangkapan-pangeran-diponegoro-perlawanan-raden-saleh-atas-karya-nicolaas-pieneman/
| Replika Pirografi karya Wuriyanto Nugroho |
Lukisan Saleh tentang Pangeran Diponegoro Ditangkap (Arrested),
yang dibuat tahun 1857 dan disampaikan kepada pemerintah Belanda, sebenarya
adalah bentuk protes kepada lukisan
Nicolaas Pieneman yang berjudul Pangeran Diponegoro Menyerah (“Submission”)
yang dibuat 1835, yaitu yaitu 17 tahun setelah lukisan Pieneman tersebut
terpampang di kerajaan Belanda. Sebagai seorang seniman, perjuangan Saleh bukan
dengan mengangkat senjata, tapi mengangkat kuas untuk meluruskan konteks kultur
yang tepat dan konteks sejarah yang benar terhadap realitas menjelang berakhirnya
Perang Diponegoro (atau disebut Perang Jawa). https://en.wikipedia.org/wiki/Raden_Saleh#The_Arrest_of_Pangeran_Diponegoro
Disebut Perang Jawa karena saat itu hampir meluas seluruh Plau Jawa
mendukung Diponegoro. Beberapa kaum Cina pedagang di wilayah pesisir Jawa Utara
mendukung logistic kepada pasukan Diponegoro. Pasukan Belanda saat itu kewalahan
menghadapi pasukan Diponegoro karena dalam waktu hampir bersamaan, Belanda juga
menghadapi perang Padri di Sumbar).
Dalam lukisan Saleh yang berjudul Kantor Pos di lereng Megamendung, sangat jelas sekali sindiran Saleh. Digambarkan orang-orang Belanda nampak naik kuda atau duduk nongkrong di kereta, namun orang local (Sunda) banyak yang jalan kaki dan memikul beban. Ini adalah gambaran realitas sosial pada jaman kolonial.
2. Mencintai lingkungan dan alam.
Melalui karya karyanya, Saleh juga memberi “warning” tentang kerusakan lingkungan. Karya-krya peuruan rusa, harimau, banteng dll merupakan kaya-karya yang dipesan oleh orang Eropa yang pada jaman itu memang sedang menyukai dunia aksi dan drama. “Kaya-karya Saleh yang berupa perburuan hewan itu sebenarnya bukan muncul asli dari kepribadian Saleh, tapi merupakan pesanan para bangsawan Eropa, demikian ungkap Wener Kraus seorang sejarawan seni dari Jerman. https://nationalgeographic.grid.id/read/13967152/alam-manusia-dan-masa-depan-dari-lukisan-raden-saleh?page=all![]() |
| Banjir di Jawa karya Raden Saleh |
3. Paham dan mencintai budaya lokal.
Saleh juga dikenal lewat jasanya dalam menyelamatkan situs atau Prasasti Banten, yang kini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti tersebut diyakini sebagai sumber penting untuk mempelajari kerajaan Padjajaran Jawa Barat. (https://www.merdeka.com/peristiwa/raden-saleh-kini-belum-juga-mendapat-gelar-pahlawan-nasional.html)Lukisan protes karya Saleh terhadap lukisan Pieneman sangat nampak jelas penguasaan dan pemahaman Saleh terhadap budaya lokal di Jawa, yaitu seperti:
![]() |
| Membandingkan 2 karya lukisan sejarah tentang Diponegoro |
aa. Adanya gambar
“blangkon” dan kain iket kepala yang merupakan ciri khas Jawa, lukisan Pieneman
hamper semua pengikut Diponegoro digambarkan memakai sorban Arab.
bb. Adanya motif batik
yang jelas (seperti motif “parang-rusak” yang umumnya dipakai oleh kaum
menengah keatas/tertentu/non-jelata di Jawa),
cc. Tidak ada
anak-anak terlibat menonton dalam kerumunan massa (di lukisan Pieneman nampak
ada 2 anak dalam kerumunan massa, jadi ini tidak logis). Budaya orang Jawa kuno
mengajarkan, bahwa tabu etikanya bagi anak-anak untuk ikut hadir atau berada
dalam urusan orang-tua. Maka jaman dulu sangat terlarang bagi anak ikut menemui
tamu orang tua mereka.
dd. Lukisan
Saleh tidak nampak ada senjata pada kaum pribumi, karena bagi orang Jawa yang
menghormati etiket baik undangan Belanda untuk berunding (gencaan senjata) dia
tidak akan membawa senjata. Apalagi saat Diponegoro diundang adalah bulan puasa,
jadi sangat etis & logis jika gencatan senjata saat itu dilakukan. Etika
bagi budaya Jawa, senjata baru akan dibawa saat dia hendak perang, sama seperti
Keris baru akan diselipkan di depan perut saat hendak perang, tapi pada
saat-saat kondisi damai atau tidak perang, Keris hanya boleh diselipkan di
pinggang bagian belakang. Dalam lukisan
Peineman nampak ada beberapa senjata (tombak terkumpul di tanah di depan
pengikut Diponegoro). Ini menunjukkan kekurang pahaman pelukis terhadap budaya
Jawa.
4. Diplomat Seni Berlevel Internasional
Selama sekolah dan mengabdikan diri sebagai pelukis kerajaan Belanda, banyak karya Saleh yang dipesan dan dinikmati oleh masyarakat kalangan atas masyarakat di Belanda saat itu. Bahkan beberapa karyanya juga sudah dikenal di Perancis.
Juga selama 5 tahun dikirim pemerintah Belanda untuk sebagai tamu kehormatan seni dan tinggal di Jerman, nama Saleh sebagai maestro lukis dari Indonesia juga sangat dikenal di Jerman.
Selama sekolah dan mengabdikan diri sebagai pelukis kerajaan Belanda, banyak karya Saleh yang dipesan dan dinikmati oleh masyarakat kalangan atas masyarakat di Belanda saat itu. Bahkan beberapa karyanya juga sudah dikenal di Perancis.
Juga selama 5 tahun dikirim pemerintah Belanda untuk sebagai tamu kehormatan seni dan tinggal di Jerman, nama Saleh sebagai maestro lukis dari Indonesia juga sangat dikenal di Jerman.
Raden Saleh telah meletakkan fondasi hubungan persahabatan antara Indonesia dan Jerman dan juga perdamaian dunia dengan tulisan Jawa yang berarti "Sembahlah Tuhanmu dan Cintai Sesama Manusia" di Masjid Kubah Biru yang menjadi salah satu icon Maxen - Jerman dan juga daya tarik wisata di sana. https://www.liputan6.com/news/read/335909/raden-saleh-harumkan-bangsa-di-jerman
Informasi dari KBRI di Jerman, buku Komik tentang Raden Saleh akan diluncurkan pada Frankfurt Book Fair 2019, di Jerman pada tanggal 16 - 20 Okt 2019. Buku tersebut ditulis oleh sejarawan seni asal Jerman Wener Kraus bersama tiga ilustrator komik. https://joss.co.id/2019/10/ditulis-sejarawan-jerman-komik-raden-saleh-segera-diluncurkan-di-frankfurt/ Selain buku komik, padaevent itu juga akan digelar beberapa kartu pos berisi karya-karya lukisan Saleh, prangko berisi karya Saleh, dan beberapa souvenir terkait dengan Saleh. https://www.antaranews.com/berita/1101950/komik-tentang-raden-saleh-diluncurkan-pada-frankfurt-book-fair-2019
Mencermati event yang mengangkat karya seni seperti ini, kita juga jadi teringat dengan pelukis besar dari Jepang, Katsushika Hokusai, yang karya-karyanya dan namanya diangkat dalam event penting dan bahkan digunakan pada dunia bisnis dan pariwisata di Jepang. https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10215643776831555&set=pcb.10215643967476321&type=3&theater
Sungguh sesuatu hal yang membanggakan nama Saleh dikenal dan diangkat di Jerman. Pertanyaannya adalah, kenapa bukan orang Indonesia dan bukan bertempat di Indonesia dan untuk acara-acara yang mengangkat maestro-maestro lukis Indonesia juga terjadi seperti ini?
Makam Raden Saleh
![]() |
| Salah satu seniman Bogor (Novandi) semedi di makam Saleh |
Makam itu direnovasi pada jaman Presiden Soekarno, yang saat itu memerintahkan arsitek F. Silaban yang merupakan arsitek yang membangun Masjid Istiqlal Jakarta untuk melakukan pemugaran pada makam Raden Saleh pada tahun 1953. http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=140&lang=id).
Pemberitaan kematian Raden Saleh terdapat di Koran Java Bode yang terbit 28 April 1880:
https://en.wikipedia.org/wiki/Raden_Saleh#The_Arrest_of_Pangeran_Diponegoro
“Pada hari Minggoe tanggal 25 April djam 6 pagi maitnja Raden Saleh diiringi oleh banjak toean-toean ambtenaar, kandjeng toean Assistant, toean Boetmy dan lain-lain toean tanah, hadji-hadji, satoe koempoelan baris bangsa Islam, baik jang ada pangkat jang tiada berpangkat dan orang Djawa, sampe anak-anak Djawa dari Landbouwschool semoea anter itoe mait ke koeboer. Penghoeloe-penghoeloe, kiai-kiai dan orang-orang alim soedah djoega ikoet anter. Itoe orang-orang Selam dan Djawa dan apa lagi itoe jang alim-alim soedah njanji sepandjang djalan dengan soeara jang sedih; ‘…AwIIoh hoema salim, Awlloh sajidina Moehammad Rasoeloellah.’
IPI-Bogor






No comments:
Post a Comment